Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Agar Terhindar Dari Banjir Selama 100 Tahun, IKN Nusantara Bangun Kolam Retensi Dan Bendungan
IKN Nusantara

Agar Terhindar Dari Banjir Selama 100 Tahun, IKN Nusantara Bangun Kolam Retensi Dan Bendungan

Berita Baru, Yogyakarta – Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang terletak di Penajam Paser Kalimantan timur didesain agar terhindar dari banjir selama 100 tahun. Hal itu dilakukan dengan cara membangun sejumlah kolam retensi dan bendungan. “Memang tidak ada jaminan tidak akan ada banjir tapi dengan perhitungan hidrologi dan desain yang andal, tidak akan terjadi banjir di IKN dalam 100 tahun mendatang,” kata Kepala Balai Wilayah Sungai Kalimantan IV Samarinda Harya Muldianto seperti dilansir dari Antara, Minggu (6/11/2022).

Menurut dia, kolam retensi yang dibangun adalah SG-3, kolam retensi TR-01, dan kolam retensi TR-7 yang isa mereduksi banjir dan menunjang penerapan Zero Delta Q. Penyebab banjir selama ini di wilayah IKN antara lain curah hujan tinggi, pengaruh pasang surut air laut, bottleneck gorong-gorong jembatan dan jalan provinsi, serta kondisi topografi cenderung datar.

Dia mengatakan, teridentifikasi kejadian banjir tahunan (2-3 kali) pada lima sungai di Kecamatan Sepaku yang berdampak pada permukiman serta jalan protokol Sepaku. Kegiatan mengendalikan banjir, sampai 2024 berupa penurapan dan normalisasi sungai sepanjang 25 kilometer, serta memperlancar bottleneck di setidaknya di lima titik. “Pengendalian banjir juga dilakukan dengan cara peninggian tanggul sungai, serta membuat bendungan,” ujar Harya Muldianto

Kegiatan dilanjutkan program jangka panjang 2024-2045 dengan membangun tampungan retensi banjir sesuai rencana induk pengendalian banjir daerah aliran Sungai Sanggai. Kementerian PUPR optimistis segala upaya mengendalikan banjir di IKN akan berhasil dengan terus melakukan berbagai pembangunan infrastruktur, seperti bendungan.

Salah satunya adalah pembangunan Bendungan Sepaku Semoi, di Kabupaten Penajam Paser Utara yang bakal memiliki luas genangan sekitar 280 hektare, dengan tinggi 25 meter dari fondasi, dan panjang 450 meter. Manfaat bendungan itu antara lain dapat mereduksi banjir hingga 55,26 persen, menciptakan air baku 2.500 liter per detik, hingga bisa menjadi potensi wisata. Sementara itu, 65 persen atau 4.322 hektare dari total areal Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Ibu Kota Negara Nusantara yang luasnya 6.671 hektare ditetapkan menjadi area hijau makro.

“Konsep pembangunan IKN adalah tetap melestarikan hutan dan hewan yang selama ini ada di situ sehingga tetap hijau,” kata Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kaltim Junaidi. Menurut dia, 26 persen atau 1.760 hektare akan dibangun area pembangunan yang terdiri dari campuran 2,3 persen, fasilitas hankamtibmas 1,8 persen, fasilitas khusus 1,2 persen, hunian 12,6 persen, pemerintahan 5,7 persen, perkantoran dan jasa 1,3 persen, serta sarana dan prasarana 1,5 persen. Sisanya sembilan persen atau 589 hektare akan digunakan untuk pembangunan jalan dan infra makro. “Meskipun infrastruktur IKN berada di eks hutan Kalimantan, pemerintah tetap menjaga keberadaan flora dan fauna asli pulau itu, contohnya hewan seperti kera berhidung panjang (bekantan),” terang Junaidi.

Beberapa pembangunan infrastruktur yang sedang dilakukan adalah jalan lingkar Sepaku Segmen 1, jalan lingkar Sepaku Segmen 2, jalan lingkar Sepaku Segmen 3, dan pembangunan jalan kerja/logistik IKN paket pembangunan jalan lingkar Sepaku segmen 4. Selain itu pembangunan jalan tol IKN segmen Karangjoang-KK Kariangau (3A, jalan tol IKN segmen KKT Karingau-SP. Tempadung (3B), jalan tol IKN segmen SP Tempadung-Jembatan Pulau Balang, serta pembanunan jalan di dalam KIPP yaitu pembangunan jalan sumbu Kebangsaan sisi barat.

“Pembangunan infrastruktur jalan tersebut sangat penting dan strategis selain untuk mengangkut material bahan bangunan, juga untuk menarik investor berusaha di IKN,” papar Junaidi. Pemerintah melakukan desain Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara agar terhindar dari banjir selama 100 tahun. Yakni dengan cara membangun sejumlah kolam retensi dan bendungan