Berita

 Network

 Partner

Beberapa Saat Sebelum Polisi Datang
Ilustrasi

Beberapa Saat Sebelum Polisi Datang

Cerpen Oleh: AM. Alhamdany

Sorot lampu jalan menerobos masuk lewat lubang-lubang udara dan jendela yang terbuka, membuat siluet kotak-kotak, sekilas terlihat seperti tattoo di wajahnya. Malam terlalu diam dan dingin, terlalu diam hingga tinggal suara gagak yang bersahutan di atap rumahnya, terlalu dingin hingga tak seorang pun yang mampu mengakrabinya. Jalanan lengang. Tapi meskipun begitu, ia tak memperdulikan sama sekali, ia tetap membuka jendela rumahnya lebar-lebar, membiarkan dingin malam masuk ke kamarnya, sepi menusuk-nusuk jiwanya, sambil duduk menghadap meja, sejajar dengan jendela.

“Hei anak muda, sudah berapa kali ku katakan padamu, buang jauh-jauh pikiran kacaumu itu. Jangan menyiksa dirimu. Jangan kau meratap sebegitu jadinya.” Ia berhenti sejenak, mendorong kursi menjauhi meja. Ia menarik napas dalam-dalam sambil mendongak kelangit, rambut ikal panjangnya sampai menyentuh punggung kursi.

Setelah terdiam sedikit lama, ia menarik kursinya lagi, mendekatkan ke meja.

“Sederhana saja, kau memegang kendali utuh atas dirimu. Kau tahu, setelan pakaian yang indah yang ku kenakan ini, belum tentu cocok denganmu, begitu pula dengan umpatan-umpatan orang lain atas perbuatanmu. Mereka hanya menyodorkan setelan jas milik mereka tanpa mengukur tinggi badanmu, lingkar perutmu, pendeknya, mereka menyodorkan sampah di depan matamu.” Mata merahnya melotot sambil sedikit membentak, memecah kesunyian malam. Membuat seorang lelaki dengan jaket parka yang berjalan melewati rumahnya berhenti sejenak. Laki-laki itu terlihat menelisik. Ia menoleh seakan mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja. Laki-laki itupun berlalu.

Ia mengambil sebatang rokok dari bungkus yang tergeletak di samping asbak yang penuh puntung. Lalu terdengar gemeletik, tik!, lalu api menyala membuat wajahnya terlihat semakin jelas untuk beberapa saat. Ia menghisap dalam, bara api di ujung rokok itu melaju mundur dengan cepat, menyisakan abu rapuh yang berjatuhan di terpa desir angin dari jendela, sehingga berserakan dan membuat meja semakin kotor. Ia mendongak lagi, menghembuskan asap dari mulutnya yang hitam kering. Dari sela-sela kulit mulutnya yang pecah-pecah itu, sedikit demi sedikit asap kuning kecoklatan mengepul, lalu menggulung-gulung, terlihat merambat keluar diantara sorot lampu, menuju lubang-lubang diatas jendela.

“Lihat dirimu. Badanmu kurus kering, sangat tidak sedap untuk dipandang. Rambutmu begitu berantakan. Dan matamu, lihat kantung matamu yang hitam lebam, sempurna sekali di pasang di bawah matamu yang merah dan sayu itu. Dan, ah, sial, lihatlah, kau bau sekali. Kau cukup sempurna untuk ukuran seorang pecundang harcur yang masih hidup.” Dahinya mengernyit, bahkan kedua ujung alisnya nyaris terhubung, membentuk lipatan-lipatan di keningnya. Ia benar-benar menaruh iba pada pemuda di depannya.

Berita Terkait :  Vaksinasi dan Efektivitasnya dalam Memutus Rantai Penyebaran Covid-19

Ia menoleh ke arah jam dinding di atas rak yang berisi buku-buku ujung kamar, di dekat pintu itu. Terlihat ia menekan ujung puntung rokok diantara abu dan puntung lain di dalam asbak, membuat bara api di ujung rokok perlahan mati, berubah menjadi asap yang mengawang lalu hilang.

“Jika kematian satu-satunya pintu yang mengantarmu pada kebebasan, pikirku, lebih baik kau mati. Jika dunia hanya membuat kau kehilangan jati dirimu, apa boleh buat.”

“ehmm. Tapi aku tidak serius dengan itu.”

“Lebih baik sekarang kau perbaiki kehidupanmu anak muda, pergilah mandi mandi. Kau bisa menumpang di kamar mandiku, sudah malam, terlalu jauh jika kau pulang. Bersihkan dirimu, rambut panjangmu itu pasti tidak nyaman jika di biarkan kusut begitu, keramaslah. Dan aku akan memasak, kau pasti sudah lapar. Oh, kau! Hei, anak muda, untuk apa pistol di tanganmu itu?”

Terdengar suara tembakan yang sangat nyeri, menyibak setiap cela malam, menerobos kesepian dan masuk ketelinga orang-orang di sekitar rumah itu. gagak-gagak diatap beterbangan sambil berteriak, seakan mengabarkan seuah kematian kepada semua orang.

*

Aku pulang sedikit terlambat malam ini. Sial, beginilah nasib seorang pegawai yang memegang kunci. Datang ke toko paling pagi, pulang paling malam. Tapi malam ini memang sial benar bagiku. Ketika pegawai lain sudah pulang kerumah masing-masing setelah membantuku membereskan toko, aku mencium bau yang tak sedap dari atas gudang ketika mengambil jaketku di ruang pegawai. Dengan berat hati aku menyempatkan untuk melihat ke loteng gudang toko, sebelum bau busuk ini akan semakin menjadi besok pagi.

Aku mengambil kantong plastik besar di tempat kasir kemudian berjalan mengambil tangga di bawah panel box pembangkit listrik toko, lalu mengangkatnya dan  meletakkannya tepat di bawah pintu ke loteng, lalu aku memanjat satu persatu anak tangga.

Bau busuk itu semakin kuat saat aku semakin dekat dengan pintu masuk loteng. Aku menahan napas, sampai menaiki anak tangga terakhir, lalu menghembuskan di dalam loteng. Sial, ini busuk sekali, bahkan bau itu menerobos jari telunjuk dan jempol yang aku apitkan di ujung hidungku. Aku menyalakan senter untuk memeriksa sekitar.

Berita Terkait :  UKT dan Upaya Pemberhangusan Kebebasan Akademik di UIN Sunan Kalijaga

Aku mencoba mencari sumber bau busuk ini, aku ikuti saja kemana arah bau ini, dan sialnya ini sangat membuatku mual. Aku percepat pencarian dan Puji Tuhan, aku menemukannya. Aku menemukan bangkai seekor kucing yang sudah di penuhi belatung di perutnya, membelah bulu hitamnya. Entah mengapa kucing selalu memilih tempat mati yang susah dijangkau manusia.

Aku memasukkan tanganku kedalam kantong plastik, lalu mengambil bangkai kucing hitam itu. aku menahan napas sebisa mungkin. Ku ambil perlahan bangkai itu dengan tangan kananku. Ah sial. Rasa hangat dan gerak belatung membuatku semakin mual. Cepat-cepat aku menarik setiap ujung kantong plastik dengan tangan kiriku, sehingga bangkai itu masuk kedalam kantong plastik.

Aku menguburnya di pekarangan belakang toko, lalu aku pulang.

Entah kenapa aku merasa malam ini sangat sepi. Aku tak mendengar apapun kecuali desir angin yang menerpa daun telingaku. Aku berjalan sendirian, dan baru malam ini aku merasa benar-benar berjalan sendirian, menyusuri trotoar jalan, melangkahkan kaki ditemani lampu  yang berdiri di tepian sepanjang jalanku pulang.

Aku juga merasa malam ini sangat dingin, tidak seperti biasanya. Bahkan dingin yang menusuk bersama desir angin itu mampu lolos dari jaket yang aku kenakan. Aku melingkarkan kedua tanganku menyilang di depan dada, aku memeluk diriku sendiri erat-erat. Dan terus berjalan. Sedikit minuman hangat mungkin bisa membuatku lebih nyaman saat dirumah nanti, pikirku. Ku percepat langkahku, menyibak tembok dingin yang di pasang oleh malam tepat di depanku.

Ketika aku hampir sampai rumah, aku melihat Jean, tetangga baruku, terlihat seperti sedang marah-marah. Aku mendengar ia membentak-bentak. Aku berhenti sejenak untuk memastikan karena ruangan itu gelap, hanya tersorot satu arah dari lampu jalan, sehingga aku tidak benar-benar bisa melihatnya dengan jelas, hanya sedikit wajah dan rambut panjang yang ikal kusam. Aku sedikit mendekat, di sana tidak ada siapa-siapa. Ia hanya duduk sendiri di meja sambil memegang cermin. Dan sekilas aku melihat sebuah pistol tergeletak di meja itu, aku kaget dan Jean menatapku. Mata merah dengan kantung yang hitam tak terawat itu seakan menyuruhku pergi. Aku segera pergi.

Berita Terkait :  Segelas Es Teh

Aku berpikir keras sampai depan rumahku. Jean tinggal beberapa ratus meter dari rumahku. Baru pindah seminggu yang lalu. Selama itu, ia terlihat misterius sekali. Ia jarang keluar rumah, sekali keluar ia selalu menatap kiri kanan dengan mata yang, seakan, terlihat menatap dengan curiga. Ia tidak pernah menyapa semua orang. Pernah satu hari, bibi Patricia mencoba bertamu kerumahnya, tapi katanya Jean bahkan tak mau membukakan pintu, ia malah menutup semua gorden rumahnya.

Aku benar-benar tidak paham dengan Jean.

Sesampainya di depan rumah, aku mencari kunci pintu rumahku. Aku merogoh saku celanaku. Tidak ada. Aku mencarinya di saku kanan. Tidak ada juga, hanya ada kunci toko dan dompet. Aku mencari di saku jaket parka, aku rogoh satu persatu. Nihil. Aku mencoba mengingat lagi, mungkin aku lupa meletakkan kunci rumahku. Aku mencoba mengingat-ingatnya sambil mondar-mandir.

Ah sial, aku baru ingat, aku menyimpannya di pot bunga kamboja sebelum berangkat ke toko tadi pagi. Aku berjalan lagi kehalaman rumah, menghampiri pot kamboja, lalu mengangkatnya sedikit, dan mengambil kunci di bawah pot. Lalu aku berjalan masuk teras rumah.

Aku memasukkan pelan-pelan kunci itu, memutarnya dan terdengar suara tuas di dalam pintu bergeser dua kali. Tepat saat aku menarik gagang pintu, saat pintu rumahku baru terbuka beberapa senti saja, jauh disana, terdengar suara tembakan. Aku sangat terkejut.

Aku teringat Jean. Aku berlari kerumahnya secepat yang aku bisa.

Ketika sampai di depan rumahnya, sudah banyak orang berkerumun, termasuk bibi Patricia. Di dalam sana, tergeletak tubuh Jean, tersungkur diatas meja, berlumuran darah, sambil memegang pistol di tangan kirinya. Beberapa saat kemudian polisi datang.

Bantul, 15 maret 2021

AM. Alhamdany, lahir di Lamongan, Jawa Timur. Tepatnya hari kamis , tanggal 16 November 2000, di pangkuan ibu. Setelah menamatkan SMA di kampung halaman, ia memilih merantau ke DI. Yogyakarta untuk jualan buku, dan belajar menulis. Bisa disapa di instagram @_am.alhamdany.