Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

JK

Bertemu Cak Imin di Jatim, JK: Jangan Pilih Pemimpin yang Suka Marah-marah



Berita Baru, Yogyakarta – Politikus kawakan Indonesia, Jusuf Kalla sindir Calon Presiden (Capres) 2024 no. urut 2, Prabowo Subianto yang dinilainya suka marah-marah. Ia mengajak manyarakat untuk mempertimbangkan kondisi Negara jika dipimpin oleh pemimpin temperamental.

Hal tersebut disampaikan oleh pria yang pernah dua kali menjabat sebagai Wakil Presiden (Wapres) dalam acara pertemuan antara pengusaha dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) no. urut 1, Muhaimin Iskandar di Surabaya, pada Rabu (10/1).

Pria bertubuh mungil yang akrab disapa JK itu menyinggung terkait pedoman memilih pemimpin dalam agama Islam, yang mengacu pada sifat Nabi Muhammad SAW. antara lain, Amanah, Tabligh, Jujur dan cerdas.

“Kalau kita bicara tentang tabligh, siapa yang terbaik? Anies. Kalau bicara tentang kecerdasan, siapa yang paling cerdas? Anies. Siapa yang paling amanah? Anies. Dan yang paling jujur? Anies. Nah, itulah pegangan kita. Karena kita harus mengikuti ajaran Rasulullah,” ujarnya.

JK kemudian menyindir calon presiden lainnya yang sering marah-marah. Ia menilai bahwa sangat berbahaya jika negara dipimpin oleh sosok seperti itu.

“Jika teman kita yang satu sering marah, bayangkan bagaimana negara akan dipimpin oleh orang yang suka marah. Bagaimana jika dia berhadapan dengan kepala negara lain, bisa saja terjadi konflik fisik,” ungkapnya.

Politisi senior Partai Golkar itu kemudian memberikan pesan agar masyarakat berhati-hati dalam memilih pemimpin.

Salah satu pedoman adalah melihat sikap para calon presiden selama debat ketiga pemilihan presiden 2024 yang baru-baru ini berlangsung.

“Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam memilih pemimpin. Lihat saja debat kemarin malam,” tegasnya.

JK menyatakan bahwa pemimpin negara sebaiknya memiliki sifat tenang dan tidak mudah terpancing emosi.

Menurutnya, mengingat banyaknya tantangan yang dihadapi oleh bangsa, diperlukan ketenangan dalam mengambil setiap keputusan.

“Seorang pemimpin harus tenang, memiliki gagasan, dan tidak tergesa-gesa, karena kita dihadapkan pada berbagai persoalan bangsa. Jika tidak tenang dalam berpikir, risiko pengambilan keputusan yang buruk akan meningkat,” paparnya.