Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

Mama Amina: Buah Pala Adalah Masyarakat Fakfak Itu Sendiri

Mama Amina: Buah Pala Adalah Masyarakat Fakfak Itu Sendiri



Berita Baru, Jakarta – Mama Amina Ahek dari Koperasi Syangga di Fakfak Papua Barat menjelaskan bahwa pala bukanlah sekadar buah bagi masyarakat Fakfak, tetapi adalah masyarakat Fakfak itu sendiri.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara serial ketiga diskusi daring pengelolaan produk inovatif Festival Torang Pu Para Para yang merupakan bagian dari Program Pertanian Berkelanjutan di Tanah Papua (PAPeDA) bertajuk Pala dan Budaya Fakfak, Jumat (20/8).

Menurut Mama Amina, pohon pala sangatlah melimpah di Fakfak, bahkan di hutan-hutan ia bisa tumbuh secara liar dan menariknya, secara tradisi pohon pala di Fakfak tidak boleh ditebang oleh siapa pun.

“Jadi buah pala ini adalah bagian melekat dalam budaya Fakfak, yakni untuk menjaga, merawat, dan mengelolanya selalu. Sebab ia adalah produk unggulan Fakfak sejak dulu, bahkan sebelum Indonesia merdeka,” ungkap Mama Amina dalam acara yang dimeriahkan pula oleh Wakil Bupati Fakfak Yohana Dina Hindom dan Direktur Gemapala Nikholas Djemris sebagai narasumber.

Pengolahan buah pala, lanjut Mama Amina, berhubungan pula dengan penjagaan hutan. Hutan di Fakfak boleh dibilang lebih terjaga dibanding wilayah lain di Papua karena adanya pohon pala tersebut.

Dalam acara diskusi yang ditayangkan langsung melalui kanal Youtube Asmat Papua Official, Youtube Beritabaruco, dan Facebook Beritabaru.co ini, Mama Amina juga menyinggung peran penting untuk mengajak anak-anak muda dalam merawat pohon pala.

“Kami dulu belajar dari para orang tua untuk mengelola pala, maka kami juga merasa penting untuk mengajarkan apa yang sudah kita dapatkan tentang buah pala kepada anak-anak kita agar tradisi ini selalu lestari,” jelasnya dalam diskusi yang dipandu oleh Al Muiz Liddinillah ini.

Perlu diketahui, Program PAPeDA ini diselenggarakan oleh Perkumpulan untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) dan didukung oleh The Asia Foundation (TAF).