Berita

 Network

 Partner

Refleksi Hari Pendidikan Nasional, Aliansi Eksekutif Mahasiswa Bersatu Lontarkan 9 Tuntutan kepada Nadiem

Refleksi Hari Pendidikan Nasional, Aliansi Eksekutif Mahasiswa Bersatu Lontarkan 9 Tuntutan kepada Nadiem

Berita Baru, Yogyakarta – Masih dalam momen peringatan hari pendidikan yang jatuh pada awal bulan kemarin. Aliansi Eksekutif Mahasiswa Bersatu mengkritisi kebijakan yang Menteri Pendidikan Nadiem Makarim canangkan.

Hal tersebut termuat dalam launching channel Republik Bicara sebagai refleksi memperingati hari pendidikan nasional, pada Senin (10/5).

Aliansi Eksekutif Mahasiswa Bersatu sendiri terdiri dari dari dua elemen organisasi kemahasiswaan besar di Yogyakarta. Yakni Badan Eksekutif Mahasisiwa Nusantara (BEM NUS) dan Front BEM DIY.

Refleksi Hari Pendidikan Nasional, Aliansi Eksekutif Mahasiswa Bersatu Lontarkan 9 Tuntutan kepada Nadiem

Chanel Republik Bicara sendiri berbentuk podcast yang kedepan akan membicarakan isu-isu sosial-politik dan isu-isu aktual lainnya melalui platform Youtube dan spotify. Dalam edisi pertama dan sekaligus launching tadi, sebagai refleksi hari pendidikan, Republik Bicara bersama Aliansi Eksekutif Mahasiswa Bersatu mengkritisi kebijakan Menteri Pendidikan.

Berita Terkait :  Cegah Pembludakan Pemudik, Bupati Bantul: Sayangilah Keluarga dengan Cara Tidak Mudik

Koordinator Wilayah BEM NUS DIY, Ach. Mubarok, mengatakan terdapat sembilan point yang mereka tuntut dari Menteri Pendidikan. Sebagian besar di antaranya adalah menyoal kondisi pendidikan saat ini.

“Perihal pendidikan, jika memang tuntutan-tuntutan yang kami sampaikan tidak pemerintah indahkan. Maka menurut kami Nadiem Makarim itu perlu untuk turun jabatan.” kelakarnya (10/5).

Lebih lanjut, Barok menjelaskan apa yang masyarakat harapkan ketika situasi pandemi dalam pendidikan. Menurutnya, perlu adanya terobosan-terobosan yang selanjutnya hal tersebut dapat pemerintah terapkan dalam pendidikan.

“Yang kami rasaakan saat ini terobosan-terobosan semacam itu belum ada,” lanjut Barok.

Menanggapi hal tersebut, perwakilan Front BEM DIY, Fahreza Alvindo menjelaskan banyak masyarakat yang tercekik ekonominya sebab pandemi Covid-19. Namun, tidak ada upaya yang signifikan oleh pemerintah dalam meringankan pendidikan.

Berita Terkait :  Sri Mulyani Sebut Indonesia Butuh Supply Energi Besar di Masa Depan

“Kita melihat di ranah kampus tentunya dari sekian banyak mahasiswa, masih banyak kendala terkait keuangan,” keluh Reza.

Menurut Reza, kodisi saat ini kuliah dilakukan secara daring. Mahasiswa tidak memakai fasilitas kampus, dan masih banyak mahasiswa yang kuliah dari kampung halaman. Oleh sebab itu, menurut Reza, kurangnya support dari pemerintah terutama Menteri Pendidikan sangat mereka sesali.

“Kita tidak terfasilitasi internet yang memadai, padahal banyak mahasiswa yang kuliah dari kampung halaman,” protes Reza dalam podcast.

Adapun sembilan tuntutan yang Aliansi Eksekutif Mahasiswa Bersatu lontarkan, sebagai berikut:

1. Menolak dengan tegas liberalisasi, komersalisasi, dan privatisasi pendidikan

2. Tingkatkan kesejahteraan guru honorer

3. Segerakan pemerataan pendidikan di Indonesia

Berita Terkait :  Link Live Streaming Liga Malam Jumat, Villareal vs Arsenal

4. Menyegerakan digitalisasi pendidikan

5. Kembalikan pendidikan offline, jika pendidikan masih online maka turunkan biaya

pendidikan

6. Apabila poin-poin tersebut tidak ditindaklanjuti, maka turunkan Nadiem Makarim

selaku Kemendikbudristek

7. Hapuskan pasal-pasal yang merugikan buruh pada UU Ciptaker NO 11 Tahun 2020

tentang klaster ketenagakerjaan.

8. Mendesak mahkhamah konstitusi untuk memenangkan uji formil dan materil yang

diajukam

9. Menuntut kesejahteraan buruh dengan menaikan UMR DIY.