Beritabaru.co Dapatkan aplikasi di Play Store

 Berita

 Network

 Partner

ROCKY GERUNG

Rocky Gerung: Politik Bukan Sekadar Elektabilitas tapi Etikabilitas dan Intelektualitas



Berita Baru, Jogja – Pengamat Politik Rocky Gerung menyatakan masyarakat Indonesia saat ini lebih rasional. Sehingga, pilihan publik tidak hanya bertumpu pada elektabilitas, tetapi juga etikabilitas dan intelektualitas.

Hal itu diungkapkan Rocky Gerung saat mengisi diskusi publik dan peluncuran buku “Mata Air Indonesia Maju: Bunga Rampai Gagasan Kepada Cak Imin” di Alembana Kafe, Yogyakarta, Minggu (26/6).

“Ujian Cak Imin saat ini bukan soal elektabilitas. Itu bukan hal utama untuk dibahas (saat ini_red),” kata Rocky.

Menurutnya, calon pemimpin saat ini harus diuji pada etika, kemampuannya membuka diri pada ide-ide kebhinekaan dalam makna budaya mau pun politik. Selain itu juga ujian intelektualitas.

“62 gagasan dalam buku Mata Air Indonesia Maju harus mau dan mampu diterjemahkan oleh Cak Imin. Fokus saja pada etika dan intelektualitas,” pesan Rocky.

Ia berharap Cak Imin mampu memimpin kebhinekaan dalam perpacuan politik 2024.

“Saya senang dan berharap Cak Imin memimpin remah-remah politik 20 persen ini. Karena kenyataan yang terjadi bahwa salah satu partai, yakni PDI Perjuangan sudah punya start duluan karena 20 persen itu.”

“Cak Imin mestinya bisa memimpin remahan 20% ini baru memimpin agenda kebangsaan dalam agenda keadilan dan kebhinekaan,” Jelas Rocky Gerung.

Rocky pun menyayangkan saat ini kebhinekaan politik Indonesia mundur sebab masalah remahan 20% perlementary treeshold.

“Tidak ada kebhinekaan karena kekhawatiran seseorang tidak masuk dalam putaran,” tegasnya.

Sementara, terkait gagasan kebhinekaan dalam kaitan persatuan dan intoleransi yang menguat dalam politik Indonesia sepuluh tahun terakhir, Rocky menilai Cak Imin sosok moderat dengan kapasitas intelektual teruji.

“Buku ini bukti Cak Imin itu bhineka dalam tindakan politik mau pun gagasan,” tutup Rocky.

Buku “Mata Air Indonesia Maju” sendiri berisi pemikiran dari 62 penulis dengan latar belakang aktivis, akademisi, peneliti, dan praktisi gerakan sosial.

Mereka menitipkan gagasannya pada Wakil Ketua MPR dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar atau akrab disebut sebagai Cak Imin. (*)