Berita

 Network

 Partner

Setelah Viral di Medsos, Pedagang Malioboro Angkat Suara

Setelah Viral di Medsos, Pedagang Malioboro Angkat Suara

Berita Baru, Yogyakarta – Nama Malioboro kembali menjadi perbincangan netizen beberapa waktu belakangan. Namun kali ini bukan karena keindahan wisatanya. Melainkan karena adanya keluhan dari salah satu wisatawan di laman media sosial pribadinya.

Dalam video Unggahannya tersebut, seorang wisatawan mengaku harus membayar uang sebesar Rp.37.000 untuk satu porsi pecel lele. Ia mengaku bahwa ia membayar Rp.20.000 untuk pecel lele, Rp. 7.000 untuk nasi putih, dan Rp.10.000 untuk lalapan.

Sontak postingan tersebut mendapat tanggapan beragam dari netizen. Banyak netizen yang bersimpati terhadap wisatan, dan ada pula netizen yang memberi simpati untuk pedagang lesehan di kawasan malioboro.

Dalam perkembangannya, pedagang di Malioboro pun turut angkat suara karena merasa gerah dan ingin meluruskan informasi yang beredar di jagad maya. Aspirasi para pedagang disampaikan oleh Ketua Paguyuban Lesehan Malam Malioboro, Sukidi.

Berita Terkait :  Kuasa Hukum Nani Minta Sidang Dilangsungkan Secara Offline

Menurutnya, pedagang lesehan malam di Malioboro telah bersikap profesional dengan mengutamakan pelayanan terhadap pelanggan. Ia berpandangan bahwa para pedagang telah berubah drastis dibandingkan beberapa waktu yang lalu.

“Walaupun ini masih masa pandemi, teman-teman pedagang masih bisa berpikir positif. Dalam arti persiapan-persiapan menghadapi musim liburan lebaran tetap terkontrol, baik tentang harga dan pelayanan,” tuturnya.

Lebih lanjut ia meminta untuk wisatawan juga bersikap pro-aktif. Para wisatawan yang akan menjadi konsumen di lesehan Malioboro seharusnya juga cermat dalam bertanya maupun membaca daftar harga yang tersedia di warung-warung lesehan.

“Harusnya calon konsumen yang makan di Malioboro bisa baca, berapa harga yang tercantum di daftar harga,” lanjutnya.

Berita Terkait :  Proyek JJLS Landmark Yogyakarta kembali dimulai Tahun ini

Sukidi pun juga siap untuk diajak berkoordinasi oleh wisatawan jikalau ada permasalahan saat menyantap makanan di Malioboro. Menurutnya, wisatawan dapat komunikasi dengan dirinya maupun melapor kepada petugas di sekitar Malioboro dibanding bersuara di sosial media.

“Saran kami jangan terus ngomongnya di medsos. Kan juga ada sarana pengaduan konsumen, baik lewat UPT Pemkot dan kami sebagai pengurus juga siap membantu untuk menyelesaikan jika ada yang kurang puas,” tutup Sukidi.